Saturday, 2 November 2013

PENGEMBANGAN EVALUASI PENILAIAN AFEKTIF PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA N1 BATANG


PENGEMBANGAN EVALUASI PENILAIAN AFEKTIF PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI SMA N1 BATANG


I.          PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam proses pembelajaran ada tiga komponen utama yaitu: tujuan pembelajaran, strategi belajar mengajar dan evaluasi atau penilaian. Ketiga komponen ini saling menunjang dalam proses pembelajaran peserta didik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Evaluasi belajar merupakan bagian integral dari aktivitas proses belajar mengajar yang menyebabkan proses pendidikan terarah dan dapat dilakukan evaluasi.
Ruang lingkup kegiatan evaluasi mencakup penilaian hasil belajar siswa dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Pengukuran aspek kognitif dilakukan dengan melalui tes (uji tes), aspek afektif diukur dengan angket, kuisioner, wawancara, dan juga melalui pengamatan. Sedangkan aspek psikomotor diukur melalui pengamatan. Dalam praktek evaluasi pendidikan selama ini masih lebih banyak mengukur aspek kognitif.
Aqidah Akhlak sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah, dalam pembelajaran lebih banyak menonjolkan aspek nilai, baik nilai Ketuhanan maupun kemanusiaan, yang hendak ditanamkan dan ditumbuh- kembangkan ke dalam diri peserta didik, sehingga dapat melekat pada dirinya dan menjadi kepribadiannya.
Penilaian atau evaluasi dalam setiap mata pelajaran pasti dilakukan oleh seorang pendidik. Dengan tujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran yang telah dilakukan tersebut telah dikuasai oleh peserta didik atau belum.[1] Dengan kata lain maksud dari penilaian ini adalah pemberian nilai tentang kualitas tertentu. Dalam penilaian ini meliputi ranah kognitif (ranah yang mencakup kegiatan mental/otak), ranah afektif (ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai), dan ranah psikomotorik (ranah yang terkait dengan ketrampilan atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu).
Tetapi dalam pelaksanaannya di sekolah, penilaian pembelajaran hanya dilakukan pada ranah kognitif atau segi intelektualnya, sedangkan ranah afektif (sikap dan nilai) dan ranah psikomotorik (keterampilan atau kemampuan bertindak)nya tidak.
Untuk mencapai idealitas di atas, maka harus dirumuskan sebuah sistem evaluasi pembelajaran PAI yang tidak hanya melihat Islam sebagai sebuah pengetahuan dan atau pemahaman, tapi lebih dari itu yaitu mengevaluasi dengan memandang Islam sebagai sebuah aksi moral.
Dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak, penilaian yang digunakan juga hanya menggunakan teknik penilaian yang hanya memperlihatkan perkembangan intelektualnya, dan hal tersebut belum dapat menentukan keberhasilan pembelajaran Aqidah Akhlak. Karena pembelajaran Aqidah Akhlak tidak hanya meliputi perkembangan segi intelektual tetapi juga harus terwujud dalam sikap dan keterampilan.
Jenis penilaian lain yang dapat digunakan untuk menilai perkembangan pada semua aspek baik intelektual, sikap maupun keterampilan peserta didik, yaitu dengan menggunakan jenis penilaian non tes. Penilaian non test yang memperhatikan ranah afektif peserta didik merupakan teknik yang digunakan untuk menilai dan mengumpulkan data tentang diri peserta didik yang mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi atau nilai secara sistematis dan sengaja baik melalui proses pengamatan, pencatatan terhadap gejala-gejala yang diselidiki dan lain sebagainya.
B.     Tinjauan Pustaka
1.       Pengertian Ranah Afektif
Yang dimaksud dengan ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat dilihat perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi.[2] Penilaian hasil belajar afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih banyak menilai ranah kognitif semata-mata. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman kelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
Ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Karena orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu akan sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang memiliki minat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu semua pendidik harus mampu membangkitkan minat siswa untuk mencapai kompetensi pembelajaran yang telah ditentukan.
Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku; seperti: perhatiannya terhadap mata pelajaran PAI, kedisiplinannya dalam mengikuti pelajaran agama di sekolah motivasi yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang diterimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam, dan sebagainya.[3]
2.       Karakteristik Ranah Afektif
Ada 5 (lima) karakteristik ranah afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
a)       Sikap
Sikap dapat didefinisikan sebagai suatu predisposisi atau kecenderungan untuk melakukan suatu respon dengan cara-cara tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun objek-objek tertentu. Sikap ini akan memberi arah kepada perbuatan atau tindakan seseorang.[4]
Sikap siswa terhadap mata pelajaran, misalnya Aqidah Akhlak, harus lebih positif setelah siswa mengikuti pembelajaran Aqidah Akhlak dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran.
b)       Minat
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.[5] Minat senantiasa erat hubungannya dengan perasaan individu, objek, aktivitas dan situasi.
c)       Konsep Diri
Konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir siswa, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi siswa. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar siswa dengan tepat.
d)      Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
Definisi lain tentang nilai yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu siswa menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi siswa untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
e)       Moral
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.

3.       Penilaian Afektif
Penilaian afektif atau penilaian sikap bermanfaat untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi peningkatan profesionalisme guru, perbaikan proses pembelajaran dan pembinaan sikap siswa. Karena ranah afektif ini tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti yang sebelumnya disebutkan pada poin karakteristik ranah afektif, yang secara garis besarnya adalah perhatian siswa terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Penilaian afektif atau penilaian sikap bermanfaat untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi peningkatan profesionalisme guru, perbaikan proses pembelajaran dan pembinaan sikap siswa. Karena ranah afektif ini tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti yang sebelumnya disebutkan pada poin karakteristik ranah afektif, yang secara garis besarnya adalah perhatian siswa terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
a.       Pengukuran Ranah Afektif
Bahwa teknik yang digunakan untuk menilai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes dan non tes. Tes dapat diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan), ada tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan). Sedangkan non tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala, sosiometri, studi kasus, dll.
Keberhasilan siswa dalam proses belajar- mengajar tidak selalu dapat diukur dengan alat test, karena banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sukar diukur secara kuantitatif dan objektif, misalnya aspek afektif dan psikomotor yang mencakup sifat, sikap, kebiasaan bekerja dengan baik, kerja sama, kerajinan, kejujuran, tanggung jawab, tenggang rasa, solidaritas, nasionalisme, pengabdian, keyakinan/optimisme, dan lain sebagainya. Untuk mengukur kedua aspek tersebut perlu alat penilaian yang sesuai dan memenuhi syarat.[6]
Sehubungan dengan ranah afektif, model atau alat penilaian non tes yang dapat digunakan dalam menilai ranah afektif ini, di antaranya adalah observasi, wawancara, kuesioner (angket) dan skala.
1)       Observasi (pengamatan)
Observasi ialah model, metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.[7]
Dari pengertian observasi itu sendiri memiliki pengertian yang sempit dan pengertian yang luas. Dalam arti yang sempit observasi berarti mengamati secara langsung terhadap gejala yang ingin diselidiki. Sedangkan observasi dalam arti yang luas berarti mengamati secara langsung terhadap gejala- gejala yang dihadapi.[8]
Sebagai alat penilaian, observasi dapat dipakai untuk:[9]
1.       menilai minat, sikap dan nilai-nilai yang terkandung dalam diri siswa.
2.       Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh seorang siswa maupun kelompok.
2)       Wawancara (interviu)
Sebagai model penilaian, wawancara dapat digunakan untuk menilai hasil dan proses belajar. Kelebihan wawancara ialah bisa kontak langsung dengan siswa sehingga dapat mengungkapkan jawaban secara lebih bebas dan mendalam. Lebih dari itu, hubungan dapat dibina dengan baik sehingga siswa bebas mengungkapkan pendapatnya. Wawancara bisa direkam sehingga jawaban siswa bisa dicatat secara lengkap. Melalui wawancara, data bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif Sebaliknya, pertanyaan yang belum jelas bisa diminta lagi dengan terarah dan lebih bermakna asal tidak mempengaruhi atau mengarahkan jawaban siswa.[10]
3)       Kuesioner (angket)
Dengan mempergunakan kuesioner guru dapat melakukan penilaian terhadap jumlah siswa sekaligus. Dengan demikian apabila dibandingkan dengan wawancara dan observasi, kuesioner ini jauh lebih efisien dalam penggunaan waktu. Isi pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner pada dasarnya tidak berbeda dengan isi pertanyaan dalam wawancara.

4)       Skala Sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa ketegori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang kepada dirinya. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek atau stimulus yang dihadapi, afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut.[11]
Skala sikap yang dapat digunakan dalam menilai ranah afektif adalah Skala Likert, Skala Pilihan Ganda, Skala Thurstone, Skala Beda Semantik (semantic differential), dan Pengukuran Minat.[12]
b.       Sikap dan Objek Sikap yang Perlu Dinilai
Dalam kegiatan pembelajaran, penilaian terhadap sikap selain bermanfaat untuk mengetahui faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi pembelajaran, berguna juga sebagai feedback pengembangan pembelajaran.
Secara umum, penilaian sikap dalam berbagai mata pelajaran dapat dilakukan berkaitan dengan berbagai objek sikap sebagai berikut:
1.       Sikap terhadap mata pelajaran
2.       Sikap guru terhadap mata pelajaran
3.       Sikap terhadap proses pembelajaran
4.       Sikap terhadap materi dari pokok-pokok bahasan yang ada
5.       Sikap berhubungan dengan nilai-nilai tertentu yang ingin ditanamkan dalam diri siswa melalui materi tertentu
6.       Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum
C.    Metode Penelitian
1.      Desain Penelitian
a.       Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang menekankan analisisnya pada deskriptif berupa dari kata-kata tertulis dan catatan, serta buku-buku yang dijadikan sebagai landasan dalam penelitian.
Jadi penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif, faktual, akurat, dan sistematis, mengenai masalah-masalah yang ada di objek penelitian.
b.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan adalah penelitian yang  dilakukan di kancah atau tempat terjadinya gejala-gejala yang diselidiki.[13] Lokasi penelitian ini adalah kelas XII di SMA Negeri 1 Batang.
2.      Sumber Data
Untuk mendapatkan data-data yang valid, maka diperlukan data penelitian yang valid pula, dalam penelitian ini ada dua sumber data yaitu;
a.       Sumber Data Primer
Data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya. Seluk beluk alat pengambilan data salah satunya dengan wawancara, dilakukan kepada Kepala Sekolah, Guru khususnya Guru mata pelajaran pendidikan agama Islam dan Guru bimbingan Konseling dan wakil kesiswaan kelas XII SMA Negeri 1 Batang.
b.      Sumber Data Sekunder
Sumber Data Sekunder merupakan sumber data penunjang dan tambahan pada data utama yang ada relevansinya dengan judul dan ide pokok dalam permasalahan.[14]
Sumber data tersebut berupa buku-buku, dokumentasi, arsip dan media cetak lainnya yang terkait dengan judul penelitian.


II.        PEMBAHASAN
D.     TAHAP PENELITIAN
1.       Memilih lapangan, dengan beberapa pertimbangan
2.       Mengurus perijinan, baik secara formal (ke dua sekolah terkait).dan secara informal (ke pihak guru yang mengajar pelajaran Aqidah Akhlak)
3.       Mengadakan observasi langsung terkait dengan penilaian afektif siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak, dengan melibatkan beberapa informan untuk memperoleh data.
4.       Memasuki lapangan, dengan mengamati berbagai peristiwa maupun kegiatan yang ada dan wawancara dengan beberapa pihak yang bersangkutan. Data yang sudah terkumpul dari hasil wawancara dan observasi diidentifikasi agar memudahkan peneliti dalam menganalisa sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
5.       Berperan serta sambil mengumpulkan data.
6.       peneliti menyusun laporan penelitian, berdasarkan hasil data yang telah diperoleh di lapangan

E.     HASIL PENELITIAN
1.       Model Penilaian yang Digunakan dalam Penilaian Afektif pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di SMA N 1 BATANG
penilaian afektif pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dilakukan dengan menggunakan metode penilaian observasi. Hal ini seperti yang di ungkapkan oleh  selaku guru Rakimin B.A mata pelajaran Aqidah Akhlak di SMA N 1 Batang:
…saya lebih memilih menggunakan metode observasi tersebut karena menurut saya lebih mudah dalam menilai sikap ataupun minat siswa saat dikelas, karena sikap mereka apa adanya dan tidak dibuat-buat apabila mereka tidak mengetahui kalau saya sedang mengobservasi mereka, tapi kalau menggunakan angket atau wawancara bisa saja mereka sudah mempersiapkannya dan jawabannya bisa dibuat-buat dan tidak jujur…
Berdasarkan pernyataan di atas, penggunaan metode penilaian observasi di SMA N 1 Batang dianggap lebih mudah dalam menilai afektif siswa. Karena dengan metode observasi tersebut siswa tidak sadar bahwa mereka sedang dinilai, dan sikap mereka alami dan tidak dibuat-buat, tapi apabila menggunakan metode lain seperti angket atau wawancara siswa akan menyiapkan jawaban yang paling baik dan mereka akan tidak jujur.
Sehubungan dengan penggunaan metode penilaian yang digunakan, hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan siswa menunjukkan bahwa siswa tidak sadar saat pelajaran di kelas guru melakukan penilaian pada ranah afektif mereka dengan menggunakan metode observasi, bahkan siswa hanya mengira-ngirakan waktu yang digunakan oleh guru untuk menilai afektif mereka. Siswa juga mengungkapkan bahwa guru belum pernah menggunakan metode penilaian lain atau meminta mereka untuk mengisi angket ataupun melakukan wawancara sehubungan dengan mata pelajaran Aqidah akhlak, dan hal tersebut diperkuat dengan pernyataan guru yang menyatakan bahwa guru memang belum pernah meminta siswa untuk mengisi angket yang berhubungan dengan mata pelajaran Aqidah Akhlak.
Peneliti juga memiliki dokumentasi (yang dilampirkan) dari media yang digunakan pada saat metode observasi dalam penilaian afektif diterapkan, namun di media ini nilai yang ada merupakan nilai dari hasil observasi guru dengan menyimpulkan semua aspek afektif siswa, dengan kata lain guru tidak secara rinci menilai satu persatu aspek-aspek afektif siswa karena guru menganggap akan memakan waktu dan perhatian guru pada saat mengajar dan melakukan penilaian, jadi guru lebih sering menjadikan satu (menyimpulkan) nilai dari aspek-aspek afektif dan langsung memasukkan dalam daftar nilai. Di bawah ini adalah media yang digunakan guru untuk mencantumkan nilai-nilai siswa:

























ALIFAH SYAMSUL
ANANDA ELISE NATASYA BRAHMANA
3 22791 ARDHI RASY WARDHANA
4 22931 ASTRINI PRADYASTI
5 22966 AURA RAZANY
6 22934 DAMAR ARYOHANGGORO
7 22905 DANIEL MAYNARD
8 22725 DHIATAMAYO FADHLIKA
9 23101 ESTI MULYA FANANDARU
10 22910 FADHILAH HANA RIFDAH
11 22763 FARAH RIZKY ARIYANI
12 22940 FARHAN FATHURRAHMAN
13 23088 FATIMAH NUWWAARIDYA FITRIANI
14 22871 GRACIA ISAURA RAULINA
15 22697 HARUKA AYU SUHITA
16 23008 IRENE ALISJAHBANA
17 22914 KEVIN ADITYA PRABOWO
18 22844 KEVIN MAHENDRA SITUMORANG
19 23010 LAVINIA CELINA RAHMAWATI
20 22808 MAHARDIKA IRIANDA PUTRA
21 22845 MARSHA FITRIA IRZANI
22 22705 MUHAMMAD AULIA WARDHANA
23 22706 MUHAMMAD PANDITO PRATAMA
24 22737 NADELLA SALSHABIA
25 22818 OCTANIA RAYYAN AYU
26 22921 PUTRA HANIF AGSON GANI
27 22953 PUTRI ELINDA KARINA
28 22922 RADEN RORO RAIHAN RIZKI RAMADHANI
29 22711 RATIH KEMALA DEWI
30 22857 RIZKITA ARIRA PUTRI
31 22783 RUDY ONG
32 22747 SELMA FITRI AYUANSHARI
33 23107 SUARDHITO IHSAN PRATAMA
34 22993 TATIANA KANISHA DIAMIRA
35 22785 TAUFIQ WILDAN ARRIFIAN
36 22961 WINDI RAHMA AGUSTIN































































































































































































































































































































































































































































































III.             PENUTUP
     



[1] Indah Aminatus Zuhriyah, Evaluasi Pembelajaran (Malang: Kantor Jaminan Mutu, 2007), hlm. 2
[2] Indah Aminatus Zuhriyah. Op. Cit., hlm. 19-20
[3] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan ( Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 1996)
[4] Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, Evaluasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hlm. 275
[5] W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), hlm. 583
[6] Slameto, Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bina Aksara, 1988), hlm. 93

[7] M. Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran (Bandung: Remaja Rosda karya, 2008), hlm. 149
[8] Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan dan Konseling (Jakarta: Bina Aksara, 1988), hlm. 90-91
[9] Slameto., Op. Cit , hlm. 94
[10] Nana Sudjana., Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009) hlm. 69
[11] Nana Sudjana., Op.Cit., hlm. 80
[12] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 180
[13] Saifuddin Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 5
[14] Sutrisno Hadi, Metodologi Research II (Yogyakarta; Andi Offset, 1986) hlm. 73

No comments: