PENGEMBANGAN
EVALUASI PENILAIAN AFEKTIF PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DALAM PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
DI
SMA N1 BATANG
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Dalam proses pembelajaran ada tiga komponen utama
yaitu: tujuan pembelajaran, strategi belajar mengajar dan evaluasi atau
penilaian. Ketiga komponen ini saling menunjang dalam proses pembelajaran
peserta didik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Evaluasi belajar merupakan
bagian integral dari aktivitas proses belajar mengajar yang menyebabkan proses
pendidikan terarah dan dapat dilakukan evaluasi.
Ruang lingkup kegiatan evaluasi mencakup penilaian
hasil belajar siswa dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor sesuai dengan
kompetensi yang diharapkan. Pengukuran aspek kognitif dilakukan dengan melalui
tes (uji tes), aspek afektif diukur dengan angket, kuisioner, wawancara, dan
juga melalui pengamatan. Sedangkan aspek psikomotor diukur melalui pengamatan. Dalam
praktek evaluasi pendidikan selama ini masih lebih banyak mengukur aspek
kognitif.
Aqidah Akhlak sebagai salah satu
mata pelajaran di sekolah, dalam pembelajaran lebih banyak
menonjolkan aspek nilai, baik nilai Ketuhanan maupun kemanusiaan, yang hendak ditanamkan dan ditumbuh- kembangkan ke
dalam diri peserta didik, sehingga dapat
melekat pada dirinya dan menjadi kepribadiannya.
Penilaian atau evaluasi dalam setiap
mata pelajaran pasti dilakukan oleh seorang pendidik. Dengan tujuan
untuk mengetahui apakah pembelajaran yang telah dilakukan tersebut telah dikuasai oleh peserta didik atau belum.[1] Dengan kata lain maksud dari penilaian ini adalah pemberian
nilai tentang kualitas tertentu. Dalam
penilaian ini meliputi ranah kognitif (ranah yang mencakup kegiatan mental/otak), ranah afektif (ranah yang
berkaitan dengan sikap dan nilai), dan
ranah psikomotorik (ranah yang terkait dengan ketrampilan atau kemampuan
bertindak setelah seseorang menerima
pengalaman belajar tertentu).
Tetapi dalam pelaksanaannya di
sekolah, penilaian pembelajaran hanya dilakukan pada ranah kognitif
atau segi intelektualnya, sedangkan ranah afektif (sikap dan nilai) dan ranah psikomotorik
(keterampilan atau kemampuan bertindak)nya tidak.
Untuk mencapai idealitas di atas, maka harus
dirumuskan sebuah sistem
evaluasi pembelajaran PAI yang tidak hanya melihat Islam sebagai sebuah pengetahuan dan atau pemahaman, tapi lebih dari itu yaitu mengevaluasi dengan memandang Islam sebagai sebuah aksi moral.
Dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak,
penilaian yang digunakan juga hanya menggunakan teknik penilaian yang hanya
memperlihatkan perkembangan intelektualnya,
dan hal tersebut belum dapat menentukan keberhasilan pembelajaran Aqidah Akhlak. Karena pembelajaran
Aqidah Akhlak tidak hanya meliputi
perkembangan segi intelektual tetapi juga harus terwujud dalam sikap dan keterampilan.
Jenis penilaian lain yang dapat
digunakan untuk menilai perkembangan pada semua aspek baik
intelektual, sikap maupun keterampilan
peserta didik, yaitu dengan menggunakan jenis penilaian non tes. Penilaian non test yang memperhatikan ranah afektif
peserta didik merupakan teknik yang
digunakan untuk menilai dan mengumpulkan data tentang diri peserta didik yang mencakup watak perilaku
seperti perasaan, minat, sikap, emosi
atau nilai secara sistematis dan sengaja baik melalui proses pengamatan,
pencatatan terhadap gejala-gejala yang
diselidiki dan lain sebagainya.
B.
Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Ranah Afektif
Yang dimaksud dengan ranah afektif
adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar mengatakan
bahwa sikap seseorang dapat dilihat perubahannya bila seseorang telah
memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi.[2] Penilaian hasil belajar
afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih banyak menilai
ranah kognitif semata-mata. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam
berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin,
motivasi belajar, menghargai guru dan teman kelas, kebiasaan belajar, dan
hubungan sosial.
Ranah afektif menentukan
keberhasilan belajar seseorang. Karena orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran
tertentu akan sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal.
Seseorang yang memiliki minat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan
mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu semua pendidik harus
mampu membangkitkan minat siswa untuk mencapai kompetensi pembelajaran yang
telah ditentukan.
Ciri-ciri hasil belajar afektif akan
tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku; seperti: perhatiannya
terhadap mata pelajaran PAI, kedisiplinannya dalam mengikuti pelajaran agama di
sekolah motivasi yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama
Islam yang diterimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru
pendidikan agama Islam, dan sebagainya.[3]
2. Karakteristik Ranah Afektif
Ada 5 (lima) karakteristik ranah
afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
a) Sikap
Sikap dapat didefinisikan sebagai suatu
predisposisi atau kecenderungan untuk melakukan suatu respon dengan cara-cara
tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun
objek-objek tertentu. Sikap ini akan memberi arah kepada perbuatan atau
tindakan seseorang.[4]
Sikap siswa terhadap mata pelajaran, misalnya
Aqidah Akhlak, harus lebih positif setelah siswa mengikuti pembelajaran Aqidah
Akhlak dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah
satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran.
b) Minat
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, minat
atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.[5] Minat senantiasa erat
hubungannya dengan perasaan individu, objek, aktivitas dan situasi.
c) Konsep Diri
Konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan
individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan
intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target
konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah
konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam
suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan
jenjang karir siswa, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri
sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi siswa. Selain itu
informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar
siswa dengan tepat.
d) Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan tentang
perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk.
Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan
sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
Definisi lain tentang nilai yaitu nilai adalah
suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam
mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia
belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi
pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan
harus membantu siswa menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan
signifikan bagi siswa untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi
konstribusi positif terhadap masyarakat.
e) Moral
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau
benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang
dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau
melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan
keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan
berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
3. Penilaian Afektif
Penilaian afektif atau penilaian
sikap bermanfaat untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi peningkatan
profesionalisme guru, perbaikan proses pembelajaran dan pembinaan sikap siswa.
Karena ranah afektif ini tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti
yang sebelumnya disebutkan pada poin karakteristik ranah afektif, yang secara
garis besarnya adalah perhatian siswa terhadap pelajaran, disiplin, motivasi
belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan
sosial. Penilaian afektif atau penilaian sikap bermanfaat untuk memperoleh
masukan atau umpan balik bagi peningkatan profesionalisme guru, perbaikan
proses pembelajaran dan pembinaan sikap siswa. Karena ranah afektif ini tampak
pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti yang sebelumnya disebutkan pada
poin karakteristik ranah afektif, yang secara garis besarnya adalah perhatian
siswa terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman
sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
a. Pengukuran Ranah Afektif
Bahwa teknik yang digunakan untuk
menilai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes dan non tes. Tes dapat diberikan
secara lisan (menuntut jawaban secara lisan), ada tes tulisan (menuntut
jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban dalam
bentuk perbuatan). Sedangkan non tes sebagai alat penilaian mencakup observasi,
kuesioner, wawancara, skala, sosiometri, studi kasus, dll.
Keberhasilan siswa dalam proses
belajar- mengajar tidak selalu dapat diukur dengan alat test, karena
banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sukar diukur secara kuantitatif
dan objektif, misalnya aspek afektif dan psikomotor yang mencakup sifat,
sikap, kebiasaan bekerja dengan baik, kerja sama, kerajinan, kejujuran,
tanggung jawab, tenggang rasa, solidaritas, nasionalisme, pengabdian,
keyakinan/optimisme, dan lain sebagainya. Untuk mengukur kedua aspek tersebut
perlu alat penilaian yang sesuai dan memenuhi syarat.[6]
Sehubungan dengan ranah afektif, model
atau alat penilaian non tes yang dapat digunakan dalam menilai ranah afektif
ini, di antaranya adalah observasi, wawancara, kuesioner (angket) dan skala.
1) Observasi (pengamatan)
Observasi ialah model, metode atau cara-cara
menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku
dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.[7]
Dari pengertian observasi itu sendiri memiliki
pengertian yang sempit dan pengertian yang luas. Dalam arti yang sempit
observasi berarti mengamati secara langsung terhadap gejala yang ingin
diselidiki. Sedangkan observasi dalam arti yang luas berarti mengamati secara
langsung terhadap gejala- gejala yang dihadapi.[8]
Sebagai alat penilaian, observasi dapat dipakai
untuk:[9]
1. menilai minat, sikap dan nilai-nilai
yang terkandung dalam diri siswa.
2. Melihat proses kegiatan yang
dilakukan oleh seorang siswa maupun kelompok.
2) Wawancara (interviu)
Sebagai model penilaian, wawancara dapat
digunakan untuk menilai hasil dan proses belajar. Kelebihan wawancara ialah
bisa kontak langsung dengan siswa sehingga dapat mengungkapkan jawaban secara
lebih bebas dan mendalam. Lebih dari itu, hubungan dapat dibina dengan baik
sehingga siswa bebas mengungkapkan pendapatnya. Wawancara bisa direkam sehingga
jawaban siswa bisa dicatat secara lengkap. Melalui wawancara, data bisa
diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif Sebaliknya, pertanyaan yang
belum jelas bisa diminta lagi dengan terarah dan lebih bermakna asal tidak
mempengaruhi atau mengarahkan jawaban siswa.[10]
3) Kuesioner (angket)
Dengan mempergunakan kuesioner guru dapat
melakukan penilaian terhadap jumlah siswa sekaligus. Dengan demikian apabila
dibandingkan dengan wawancara dan observasi, kuesioner ini jauh lebih efisien
dalam penggunaan waktu. Isi pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner pada
dasarnya tidak berbeda dengan isi pertanyaan dalam wawancara.
4) Skala Sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap
seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa ketegori sikap, yakni
mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya
adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan
reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang kepada dirinya. Ada tiga
komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi.
Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek atau stimulus
yang dihadapi, afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek
tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat
terhadap objek tersebut.[11]
Skala sikap yang dapat digunakan dalam menilai
ranah afektif adalah Skala Likert, Skala Pilihan Ganda, Skala Thurstone, Skala
Beda Semantik (semantic differential), dan Pengukuran Minat.[12]
b. Sikap dan Objek Sikap yang Perlu
Dinilai
Dalam kegiatan pembelajaran, penilaian terhadap
sikap selain bermanfaat untuk mengetahui faktor-faktor psikologis yang
mempengaruhi pembelajaran, berguna juga sebagai feedback pengembangan
pembelajaran.
Secara umum, penilaian sikap dalam berbagai
mata pelajaran dapat dilakukan berkaitan dengan berbagai objek sikap sebagai
berikut:
1.
Sikap terhadap mata pelajaran
2.
Sikap guru terhadap mata pelajaran
3.
Sikap terhadap proses pembelajaran
4.
Sikap terhadap materi dari pokok-pokok bahasan
yang ada
5.
Sikap berhubungan dengan nilai-nilai tertentu
yang ingin ditanamkan dalam diri siswa melalui materi tertentu
6.
Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif
lintas kurikulum
C.
Metode Penelitian
1.
Desain
Penelitian
a.
Pendekatan
Penelitian
Pendekatan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan
kualitatif merupakan pendekatan yang menekankan analisisnya pada deskriptif
berupa dari kata-kata tertulis dan catatan, serta buku-buku yang dijadikan
sebagai landasan dalam penelitian.
Jadi penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran yang lebih objektif, faktual, akurat, dan sistematis,
mengenai masalah-masalah yang ada di objek penelitian.
b.
Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian
lapangan adalah penelitian yang dilakukan
di kancah atau tempat terjadinya gejala-gejala yang diselidiki.[13]
Lokasi penelitian ini adalah kelas XII di SMA Negeri 1 Batang.
2.
Sumber Data
Untuk mendapatkan
data-data yang valid, maka diperlukan data penelitian yang valid pula, dalam
penelitian ini ada dua sumber data yaitu;
a.
Sumber Data
Primer
Data yang
langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya. Seluk beluk alat
pengambilan data salah satunya dengan wawancara, dilakukan kepada Kepala
Sekolah, Guru khususnya Guru mata pelajaran pendidikan agama Islam dan Guru
bimbingan Konseling dan wakil kesiswaan kelas XII SMA Negeri 1 Batang.
b.
Sumber Data
Sekunder
Sumber Data
Sekunder merupakan sumber data penunjang dan tambahan pada data utama yang ada
relevansinya dengan judul dan ide pokok dalam permasalahan.[14]
Sumber data
tersebut berupa buku-buku, dokumentasi, arsip dan media cetak lainnya yang
terkait dengan judul penelitian.
II.
PEMBAHASAN
D. TAHAP
PENELITIAN
1. Memilih lapangan, dengan beberapa pertimbangan
2. Mengurus perijinan, baik secara formal (ke dua sekolah terkait).dan secara
informal (ke pihak guru yang mengajar pelajaran Aqidah Akhlak)
3. Mengadakan observasi langsung terkait dengan penilaian afektif siswa pada
mata pelajaran Aqidah Akhlak, dengan melibatkan beberapa informan untuk
memperoleh data.
4. Memasuki lapangan, dengan mengamati berbagai peristiwa maupun kegiatan
yang ada dan wawancara dengan beberapa pihak yang bersangkutan. Data yang sudah
terkumpul dari hasil wawancara dan observasi diidentifikasi agar memudahkan
peneliti dalam menganalisa sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
5. Berperan serta sambil mengumpulkan data.
6. peneliti menyusun laporan penelitian, berdasarkan hasil data yang telah
diperoleh di lapangan
E. HASIL
PENELITIAN
1. Model Penilaian yang Digunakan dalam Penilaian Afektif pada
Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di SMA N 1 BATANG
penilaian afektif pada mata
pelajaran Aqidah Akhlak dilakukan dengan menggunakan metode penilaian
observasi. Hal ini seperti yang di ungkapkan oleh selaku guru Rakimin B.A mata pelajaran Aqidah
Akhlak di SMA N 1 Batang:
…saya lebih memilih menggunakan metode
observasi tersebut karena menurut saya lebih mudah dalam menilai sikap ataupun
minat siswa saat dikelas, karena sikap mereka apa adanya dan tidak dibuat-buat
apabila mereka tidak mengetahui kalau saya sedang mengobservasi mereka, tapi
kalau menggunakan angket atau wawancara bisa saja mereka sudah mempersiapkannya
dan jawabannya bisa dibuat-buat dan tidak jujur…
Berdasarkan pernyataan di atas,
penggunaan metode penilaian observasi di SMA N 1 Batang dianggap lebih mudah
dalam menilai afektif siswa. Karena dengan metode observasi tersebut siswa
tidak sadar bahwa mereka sedang dinilai, dan sikap mereka alami dan tidak
dibuat-buat, tapi apabila menggunakan metode lain seperti angket atau wawancara
siswa akan menyiapkan jawaban yang paling baik dan mereka akan tidak jujur.
Sehubungan dengan penggunaan
metode penilaian yang digunakan, hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti
dengan siswa menunjukkan bahwa siswa tidak sadar saat pelajaran di kelas guru
melakukan penilaian pada ranah afektif mereka dengan menggunakan metode
observasi, bahkan siswa hanya mengira-ngirakan waktu yang digunakan oleh guru
untuk menilai afektif mereka. Siswa juga mengungkapkan bahwa guru belum pernah menggunakan
metode penilaian lain atau meminta mereka untuk mengisi angket ataupun
melakukan wawancara sehubungan dengan mata pelajaran Aqidah akhlak, dan hal
tersebut diperkuat dengan pernyataan guru yang menyatakan bahwa guru memang
belum pernah meminta siswa untuk mengisi angket yang berhubungan dengan mata
pelajaran Aqidah Akhlak.
Peneliti juga memiliki
dokumentasi (yang dilampirkan) dari media yang digunakan pada saat metode
observasi dalam penilaian afektif diterapkan, namun di media ini nilai yang ada
merupakan nilai dari hasil observasi guru dengan menyimpulkan semua aspek
afektif siswa, dengan kata lain guru tidak secara rinci menilai satu persatu
aspek-aspek afektif siswa karena guru menganggap akan memakan waktu dan perhatian
guru pada saat mengajar dan melakukan penilaian, jadi guru lebih sering
menjadikan satu (menyimpulkan) nilai dari aspek-aspek afektif dan langsung
memasukkan dalam daftar nilai. Di bawah ini adalah media yang digunakan guru
untuk mencantumkan nilai-nilai siswa:
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
ALIFAH SYAMSUL
ANANDA ELISE NATASYA BRAHMANA 3 22791 ARDHI RASY WARDHANA 4 22931 ASTRINI PRADYASTI 5 22966 AURA RAZANY 6 22934 DAMAR ARYOHANGGORO 7 22905 DANIEL MAYNARD 8 22725 DHIATAMAYO FADHLIKA 9 23101 ESTI MULYA FANANDARU 10 22910 FADHILAH HANA RIFDAH 11 22763 FARAH RIZKY ARIYANI 12 22940 FARHAN FATHURRAHMAN 13 23088 FATIMAH NUWWAARIDYA FITRIANI 14 22871 GRACIA ISAURA RAULINA 15 22697 HARUKA AYU SUHITA 16 23008 IRENE ALISJAHBANA 17 22914 KEVIN ADITYA PRABOWO 18 22844 KEVIN MAHENDRA SITUMORANG 19 23010 LAVINIA CELINA RAHMAWATI 20 22808 MAHARDIKA IRIANDA PUTRA 21 22845 MARSHA FITRIA IRZANI 22 22705 MUHAMMAD AULIA WARDHANA 23 22706 MUHAMMAD PANDITO PRATAMA 24 22737 NADELLA SALSHABIA 25 22818 OCTANIA RAYYAN AYU 26 22921 PUTRA HANIF AGSON GANI 27 22953 PUTRI ELINDA KARINA 28 22922 RADEN RORO RAIHAN RIZKI RAMADHANI 29 22711 RATIH KEMALA DEWI 30 22857 RIZKITA ARIRA PUTRI 31 22783 RUDY ONG 32 22747 SELMA FITRI AYUANSHARI 33 23107 SUARDHITO IHSAN PRATAMA 34 22993 TATIANA KANISHA DIAMIRA 35 22785 TAUFIQ WILDAN ARRIFIAN 36 22961 WINDI RAHMA AGUSTIN |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
III.
PENUTUP
[1] Indah Aminatus Zuhriyah, Evaluasi
Pembelajaran (Malang: Kantor Jaminan Mutu, 2007), hlm. 2
[2] Indah Aminatus Zuhriyah. Op. Cit.,
hlm. 19-20
[3] Anas Sudijono,
Pengantar Evaluasi Pendidikan ( Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 1996)
[4] Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana,
Evaluasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hlm. 275
[5] W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum
Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), hlm. 583
[6] Slameto, Evaluasi Pendidikan
(Jakarta: Bina Aksara, 1988), hlm. 93
[7] M. Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip
dan Teknik Evaluasi Pengajaran (Bandung: Remaja Rosda karya, 2008), hlm. 149
[8] Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan dan
Konseling (Jakarta: Bina Aksara, 1988), hlm. 90-91
[9] Slameto., Op. Cit , hlm. 94
[10] Nana Sudjana., Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009) hlm. 69
[11] Nana Sudjana., Op.Cit., hlm. 80
[12] Suharsimi Arikunto, Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 180
[13] Saifuddin
Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 5
[14] Sutrisno Hadi,
Metodologi Research II (Yogyakarta; Andi Offset, 1986) hlm. 73
No comments:
Post a Comment